Jumat, 10 Desember 2010

OPERA JULINI, TEATER CITRA SUBANG; PANGGUNG KOSONG YANG MERIAH

Catatan singkat tentang: Opera Julini, Teater Citra Subang dalam Festival Teater Remaja 2 SMA/SMK sederajat, Jawa Barat 2010
PANGGUNG KOSONG YANG MERIAH
Ketika seorang Pejabat sakit mata dan nyaris buta, teror, kerusuhan, salah wewenang,   bawahan yang berbohong, bertindak semaunya dan maraknya laporan palsu yang terus  berkembang, Julini muncul di negara yang diambang chaos social ini, dia adalah seorang wadam yang sudah mati yang kini dibangkitkan lagi. Dia dibangkitkan karena harus menyelesaikan persoalannya yang belum tuntas. Maka dia melakukan perjalanan melewati lapisan pintu demi pintu di antara kehidupan dan kematian. Julini melewati banyak pintu untuk sampai ke tempat tujuan bersama seorang guide. Kemudian ia dihadapkan pada dua pilihan: memasuki pintu untuk lelaki atau pintu untuk wanita. Ia memilih pintu untuk wanita, dan ditolak; memang dia seorang wadam bernama Julini tapi dia adalah juga lelaki asli bernama Bambang Julino.
Dalam perjalanan melewati pintu-pintu, Julini menyaksikan Roima ‘kisah masa lalunya’ yang sukses sebagai bandit bersama gerombolannya. Kelompok Roima semakin berkembang. Tapi Tibal yang menganggap ‘kapal dengan dua kapten pasti oleng’, kemudian menyingkirkan Roima. Dan Tuminah, pacar Roima tapi juga adik Tibal, diombang  ambingkan oleh sikapnya yang cenderung masa bodoh.
Inilah dua arus besar dalam drama ini yang kemudian jalin menjalin dan manunggal. Nano Riantiarno menggabungkan kemustahilan dan kenyataan dalam naskahnya ini dengan latar belakang sebuah negara yang berkembang ke arah yang tidak menentu ketika pejabat ‘sakit mata‘ dan nyaris ‘buta‘.
Naskah ini adalah naskah berisi konflik dan kritik sosial. Konflik sosial yang disoroti adalah tentang ketidakadilan, penyalahgunaan kekuasaan, pelanggaran norma dan bentrok antarkepentingan. Kritik sosial dalam naskah ini meliputi aspek-aspek kehidupan dalam masyarakat, yang berbicara tentang masalah tatanan politik dan kekuasaan, masalah kehidupan ekonomi, dan masalah tatanan moral.
Sedang kebangkitan Julini nampaknya adalah gambaran seperti proses dalam Api Penyucian. Gagasan ini memiliki hubungan dengan akar gagasan kuno dalam literatur Kristen awal. Sang pengarang, Nano Riantiarno atau Nobertus Riantiarno pasti paham dengan gagasan ini. Gagasan tentang api penyucian dikaitkan terutama dengan Ritus Latin dari Gereja Katolik, ini adalah setiap tempat atau kondisi penderitaan atau siksaan, terutama yang bersifat sementara. Jiwa diberi kesempatan kedua menemukan diri mereka dimana ada dua tingkat, kemudian Tujuh Tingkat mewakili Tujuh dosa yang mematikan dengan hukuman ironis. Jika mereka mencapai puncak, mereka akan menemukan diri mereka.
Komedi khayalan karya N. Riantiarno ini ditampilkan ringan dan menghibur cara penyajiannya oleh Teater Citra dengan sutradara Ibeng dalam Festival Teater Remaja 2 tahun 2010 di GK. Sunan Ambu STSI Bandung yang diselenggarakan oleh Keluarga Mahasiswa Teater STSI Bandung dan G-Art Organizer.
Teater Citra tampil dengan materi pemain yang baik. Mereka adalah aktor-aktor yang berperan sebagai Julini, Bleki, Tuminah, Tibal, dan Bencong berambut merah. Dalam pentas ini kemampuan mereka untuk mewujudkan karakter perannya cukup baik. Mereka adalah aktor-aktor muda yang potensial. Aktor yang berperan sebagai Julini memiliki penguasaan vokal yang baik, yang menjadi catatan adalah pelontaran vokal ke hidung secara teknis belum terkuasai penuh sehingga beberapa lontaran tersumbat yang menyebabkannya tidak jelas terdengar.
Bleki kuat dalam  gestikulasi dan mimik, hanya ketika berbicara dia harus memperhitungkan bagaimana agar perubahan lidahnya tidak lantas merubah karakternya secara tiba-tiba.Tuminah dan Tibal tampak bermain tanpa ketegangan, begitupun Bencong berambut merah yang bermain ekspresif. Secara keseluruhan mereka bermain dengan intensitas peran yang cukup  terjaga.
Pada adegan selanjutnya ada beberapa aktor yang tadinya kuat kemudian sedikit melemah, salah satunya adalah Tibal, pada adegan selanjutnya dia kehilangan penguasaan terhadap perannya, meski kemudian Tibal kembali menemukan sosok perannya. Yang mengalami peningkatan adalah Tuminah pada saat Tibal mengalami penurunan perannya, tapi Tuminah tidak berhasil dalam bernyanyi, suara terlalu lemah pada adegan ini. Saya juga harus mencatat pada awal pentas yang berperan sebagai Pejabat dan Ibu Pejabat tampil bagus tapi kemudian melemah, karakter perannya memudar, begitu pula Guide yang mempunyai vokal yang kuat tapi lemah dalam irama dan variasi pelontaran.
Ibeng sebagai sutradara cukup berhasil dalam mengolah ruang dengan pola blocking dan grouping. Adegan-adegan tertata dengan baik, adegan penutup adalah adegan yang paling kuat, musik, sorot lampu yang indah, kostum yang berwarna di padukan dengan adegan yang menggugah, sebuah closing yang berhasil. Gagasan teks disampaikan oleh Ibeng melalui sarana struktur teks dramatik yang meliputi unsur pilihan tokoh dan penokohan, interaksi antar tokoh, pilihan setting, pilihan bahasa kata, rupa dan suara, dengan cara lugas, sindiran, humor dan pesan simbolik.
Ibeng mengosongkan panggung dari benda-benda, hanya level yang ada sebagai peninggian di bagian belakang. Panggung yang kosong dengan leluasa di isi benda-benda  juga ‘patung hidup’. Gagasan penyutradaraan Ibeng ini mampu mengubah ruang dengan efisien dan menjadikan panggung penuh dengan denyut ketegangan dan spectacle. Gagasan dynamic scenery ini berhasil menciptakan panggung menjadi meriah dengan perubahan adegan, perubahan ruang dan perubahan waktu.
Selain hal di atas pentas ini bisa berhasil karena casting yang tepat untuk para tokohnya. Mereka bermain dengan totalitas tinggi meski beberapa aktor belum fasih menguasai teknik peran. Penokohan para pemain terbantu pula dengan balutan kostum yang tampak benar-benar diperhitungkan, desain dan pemilihan warnanya tepat, ini sangat membantu, kostum menjadi imitasi karakter, dan mengisi panggung yang relatif kosong dengan perubahan warna dan suasana karena kehadirannya.
Musik cukup baik, bermain pada waktu yang tepat dan tidak mengganggu dialog yang berjalan, meski belum bisa membentuk suasana secara keseluruhan tapi pada beberapa bagian cukup membantu membangun suasana.
Yang belum terasa kuat dalam pementasan ini adalah jalinan peristiwa dari satu peristiwa ke peristiwa yang lainnya. Dalam beberapa adegan yang menuju ke perubahan peristiwa, ruang, dan waktu, jalinan peristiwa hanya di siasati dengan perubahan pola blocking dan perubahan benda-benda. Pilihan perubahan material ini kurang lengkap tanpa di barengi dengan perubahan dunia batin dari para pemain, karena perubahan material tanpa di barengi dengan perubahan spritual bisa jadi memotong bukannya menyambung.
Secara umum, Ibeng sebagai sutradara dalam pementasan ini berhasil menafsirkan gagasan-gagasan teks sehingga kerja penyutradaraan, keaktoran, musik, dan artistik saling memberi energi.

  Irwan Jamal, Penulis Naskah, Sutradara dan Aktor Pabrik Teater.


sumber 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar